07 December 2009

Dengan Bangku Kosong di Antara Kami

Dalam cabin pesawat di suatu perjalanan. Saya masuk pesawat cukup awal. Duduk di pinggir jendela sesuai angka yang tertera di boarding pass. Berikutnya seorang gadis yang datang, duduknya di alley, dengan bangku kosong di antara kami. Terakhir seorang pria tepatnya bapak-bapak yang duduk di tengah. Pesawat tak begitu penuh, sehingga bapak2 itu pindah ke kursi lain yang kosong. Kembali saya bersebelahan dengan gadis itu dengan bangku kosong di antara kami. Dia keturunan cina, rambutnya panjang, badannya langsing, wajahnya cantik dengan bulu-bulu tipis yang kelihatan cukup jelas seperti "kumis".

Take off lancar dan perjalanan di atas pun terasa smooth. Pramugari yang di masa kini berambut terurai tak dicepol membagikan dan menjajakan makanan. Kebetulan saya naik pesawat dari maskapai yang modelnya menjual makanan di atas pesawat... hehehe yang murah-murah itu lho... Saya sebenernya lapar. Pesan nggak ya? Tapi nanti kalo gagap gimana? Bukan apa-apa, malu sama gadis di sebelah saya, yang posisinya dengan bangku kosong di antara kami. Pesan deh... eh enggak deh... pesan aja deh, tinggal panggil trus tunjukin gambar yang di buku, beres. Mau panggil tau-tau ragu lagi. Aaaaahhh keraguan seperti ini sering terjadi padaku, juga melanda pws lain sepertinya. Dalam keadaan seperti ini, seringnya sih nggak jadi pesan. Seperti saat ini, akhirnya saya memutuskan dalam hati "udah lah nggak usah aneh-aneh, tidur aja."

Tahu-tahu si gadis yang duduk di sebelah saya, dengan bangku kosong di antara kami, membeli sebotol teh. Bayar selesai, pramugari pun berlalu.
Si gadis mencoba membuka botol plastik wadah minuman teh itu, tapi tak berhasil. Coba lagi, gagal lagi begitu terus sampai 5 kali. Kasian... oke lah saya bantu. Hmmm bantu nggak ya? Oke deh saya bantu.

"Bbbbbb....," aaaaahhhh blocking!
Si gadis nengok. Yaaaah nengok pula dia. Saya paksakan saja melanjutkan bicara. Dengan hentakan sedikit, keluar juga kalimat itu:
"Bbb...boleh saya coba?"
"Oooh," jawabnya sambil mengulurkan botol teh.

Saya pelintir tutup botol itu, tak kebuka, hehe ternyata memang susah. Dengan mengerahkan tenaga lebih kuat, kraaaakk, botol terbuka dan kuulurkan lagi padanya.
"Terima kasih," begitu katanya sambil tersenyum manis. Manis lah apalagi buat aku yang sedang malu hati karena ketauan gagap. Halah

No comments:

Post a Comment